Agar Ilmu Bermanfaat bag. 1
Oleh : Buya Yahya
Pengasuh LPD Al-Bahjah
www.buyayahya.org – www.buyayahya.tv – www.radioquonline.com
Biasanya ilmu didapat di sebuah majlis ilmu. Majlis ilmu adalah sebuah
majlis yang di gunakan untuk mencari ilmu agar bisa beramal dengan benar
dan puncaknya adalah mendapakan ridho Allah SWT. Rasulullah SAW telah
menyebut banyak hadits berkenaan dengan kemuliaan majlis ilmu. Pernah
beliau menyebut majlis ilmu sebagi taman surga, jalan menuju surga,
tempat malaikat melebarkan sayapnya tanda kerelaan kepada yang hadir di
majlis tersebut, tempat Allah menurunkan rahmat dan pengampunaNya dan
masih banyak sanjungan Rasulullah SAW akan kemulyaan majlis tersebut.
Itulah pendidikan dari Rasulullah SAW kepada kita agar kita memuliakan
majlis ilmu.
Hanya orang yang bisa memuliakan majlis ilmu itulah
orang yang mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan akan merasakan
keindahan sebuah majlis ilmu. Dan dengan ilmu yang bermanfaat seseorang
akan semakin baik kepada sesama dan kepada Allah SWT. Kehadiranya di
majlis ilmu akan dirasakan sebagai kehadiran yang ia rindukan dan ia
nikmati.
Makna memulyakan majlis adalah menyadari dengan hati bahwa
semua yang ada dimajlis adalah yang akan menghantarkan kita kepada
kemulyaan dihadapan Allah SWT. Artinya menginsyafi tentang siapapun yang
ada di tempat itu adalah tim sukses kita menuju ridho Allah SWT. Maka
harus diperhatikan unsur-unsur majlis ilmu ini agar benar-benar kita
bisa memuliakan majlis ilmu dan akhirnya mendapatkan ilmu yang
bermanfaat.
Di dalam majlis ilmu harus ada guru, murid dan ilmu yang
disajikan. Memuliakan majlis ilmu adalah memuliakan semua unsur
tersebut diatas. Artinya harus kita perhatikan tata krama berikut ini:
1. Tatakrama guru terhadap murid
2. Tatakrama murid terhadap guru
3. Tatakrama guru terhadap sesama guru
4. Tatakrama murid dengan sesama murid
5. Tatakrama guru dan murid terhadap ilmu
1. Tatakrama guru terhadap murid
Seorang guru yang datang ke majlis ilmu harus mempunyai tata krama
kepada murid-muridnya. Tata krama ini tidak lain adalah kelanjutan dari
ketulusan seorang guru dalam mengajar. Ada beberapa hal yang harus
diperhatikan oleh seorang guru berkenaan dengan tata kramanya terhadap
muridnya :
a. Melihat murid sebagai ladang akhiratnya
Melihat murid sebagai ladang pahala akan melahirkan sebuah kesungguhan
dalam mendidik dan tidak akan kenal putus asa. Tidak akan
membeda-bedakan mana yang kaya dan mana yang miskin, mana yang
berpangkat dan mana yang tidak berpangkat.
Kegagalan seorang guru
dalam menyampaikan ilmu yang bermanfaat adalah di saat seorang guru
melihat murid sebagai ladang mencari dunia. Dunia disini bisa dalam
bentuk materi atau pangkat dan sanjungan.
Seorang guru ketika
melihat murid sebagai ladang mencari dunia akan menjadikan tolak ukur
dalam mengajar sang murid adalah keuntungan dunia. Selagi menguntungkan
di dunia akan diperhatikan dan jika tidak menguntungkan tidak
diperhatikan. Guru semacam ini kelihatannya mengajar ilmu dan mengajak
kepada kebaikan akan tetapi sebenarnya ia menyeru orang agar membawa
dunianya kepadanya. Dari sinilah muncul kedengkian seorang guru dengan
guru yang lainnya, hilangnya kerjasama yang baik antara guru dengan guru
dan lebih dari itu seorang guru akan mudah berputus asa di dalam
mengajarkan ilmunya.
b. Melihat murid dengan mata kasih sayang
Seorang guru yang tulus akan selalu melihat murid dengan mata kasih
sayang. Mata yang penuh kerinduan agar sang murid menjadi baik dan
mendapatkan ridho Allah SWT. Seorang guru yang melihat muridnya dengan
penuh kasih sayang akan selalu terlihat santun dalam mengajar, indah
dalam berinteraksi dan penuh kebijakan di saat menyampaikan kebenaran
dan melarang kebathilan.
Guru yang penuh kasih sayang akan selalu
koreksi diri dalam menyampaikan kebenaran dan di saat sang murid belum
bisa menerima kebenaran tidak akan terburu-buru menyalahkan muridnya.
Akan tetapi ia akan selalu melihat dirinya kenapa orang lain belum bisa
menerima kebenaran yang disampaikan. Apakah dirinya kurang lembut dalam
bertutur kata, atau tidak memberi contoh yang baik dalam perilaku atau
kurang berserah dan memohon kepada Allah SWT, dan lain sebagainya yang
intinya adalah mengoreksi kekurangannya yang sangat mungkin menjadi
sebab ditolaknya sebuah kebenaran oleh sang murid.
Hal yang amat
membahayakan seorang guru adalah di saat melihat murid dengan mata
picik dan merendahkan, itulah hakikat kesombongan. Guru yang sombong
tidak akan bisa menyampaikan ilmu yang bermanfaat.
c. Memberi teladan yang baik kepada murid
Dikatakan lisanulhal afsoh min lisanilmaqol, bahwa suri tauladan dalam
bertingkah laku itu lebih mengena di hati seseorang dari pada omongan
yang diucapkan lidah. Seorang guru yang berusaha menularkan ilmunya
kepada murid harus bisa memberi contoh yang baik kepada muridnya. Hal
ini disebut Rasulullah SAW dengan sabdanya ibda’ binafsik, artinya
memulai mengamalkan ilmu untuk dirinya sendiri. Inilah kunci sang guru
untuk membuka hati muridnya agar mudah menerima ilmunya.
2. Tata krama murid terhadap guru
Agar ilmu bermanfaat seorang murid harus bertata krama kepada gurunya.
Tata krama disini adalah:
a. Datang kepada guru dengan tujuan baik
Seorang murid yang datang kepada seorang guru harus punya tujuan
baik. Tujuannya adalah untuk mendapatkan bimbingan dan ilmu dari sang
guru agar semakin dekat kepada Allah SWT. Tidak beruntung seorang yang
datang ke majlis ilmu hanya ingin mencari kesalahan sang guru atau
mencari keuntungan dunia. Murid dengan tujuan yang salah itulah yang
akan di jauhkan dari ilmu yang bermanfaat dan barokah.
b. Melihat guru sebagai pembimbing menuju keselamatannya di akhirat
Inilah yang menjadikan seorang murid amat menghargai seorang guru.
Penghargaan inilah yang menghantarkannya untuk senantiasa serius dan
bersungguh-sunguh dalam menimba ilmu dari sang guru.
c. Patuh kepada nasehat guru.
Sungguh jauh dari keberhasilan jika seorang murid tidak membiasakan
patuh kepada sang guru. Patuh disini tidak terbatas pada urusan ilmu
saja akan tetapi segala isyarat dan anjuran yang disampailkan sang guru
seorang murid sebisa mungkin mematuhinya asalkan tidak dalam hal yang
di larang Allah SWT.
d. Mengabdi kepada guru
Pengabdian disini maknanya adalah adanya kesiapaan hati untuk
mengutamakan sang guru dari kepentingan dirinya sendiri, memperhatikan
kebutuhan sang guru dan berusaha untuk mencari kerelaan hati dari sang
guru. Wallahu A'lam Bishshowab
Bersambung…
Kamis, 30 Mei 2013
Senin, 20 Mei 2013
Tujuh Tingkatan Nafsu Manusia Menurut Para Ahli Tasawuf
Para ahli tasawuf membagi nafsu manusia menjadi tujuh tingkatan , yaitu
1. Nafsu Amarah, ...
ini adalah tingkatan yang paling rendah. Nafsul amarah cenderung
mendorong manusia untuk melakukan perbuatan keji dan rendah. Keberadaan
nafsu ini Disebutkan dalam Surat Yusuf ayat 53 ...
"Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya
nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi
rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang"
Sifat orang yang mempunyai nafsul amarah
antara lain mudah marah, sombong, takabbur, tamak, kikir , dengki dan
hasud, sering memperturutkan keinginan syahwat secara berlebihan.
2. Nafsul Lawwamah,
tingkat yang lebih tinggi adalah nafsul lawwamah. Nafsu ini sering
mengkritik dan menyesali tindakan yang tidak patut yang dilakukan atas
dorongan nafsul lawwamah. Keberadaan nafsu ini disebutkan dalam Surat Al
Qiyamah ayat 2:
"...dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)"
Pada tingkatan ini seseorang akan menyesali perbuatan buruknya, dia
sering merenung dan mengkritik semua perbuatannya yang keliru.
Selanjutnya dia berusaha agar perbuatan buruk yang telah dilakukan tidak
terulang lagi.
3. Nafsul Mulhammah, ...
tingkat nafsu yang ketiga adalah nafsul mulhammah. Keberadaannya disebutkan dalam Surat Asy Syam ayat 7-10...
"...dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah
mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,
sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu,dan
sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.."
Orang yang telah mencapai tingkatan ini telah mampu mengendalikan
dirinya dari keinginan nafsu yang rendah. Ia bisa membedakan yang hak
dan batil. Ia selalu menjaga dirinya dari melakukan perbuatan tercela
dan selalu berusaha untuk meningkatkan iman dan taqwanya. Berusaha
mengerjakan amal soleh sebanyak banyaknya.
4. Naffsul Muthmainnah, ...
tingkat nafsu yang kempat adalah nafsul Muthmainnah, keberadaan nafsu ini disebutkan dalam Surat Al fajr 27-31... :
"Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas
lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan
masuklah ke dalam surga-Ku."
Orang yang telah
mencapai tingkat ini jiwanya jadi tenang , penuh rasa tawakkal, ridha
dengan semua ketetapan Allah , tidak disentuh rasa duka , sedih dan
cemas.
5. Nafsul Radhiah, ...
orang yang mencapai tingkat ini selalu merasa puas dengan apa yang
diterimanya dari Allah . Bagi mereka sama saja kejadian baik maupun
buruk yang menimpanya. Hatinya tidak terpengaruh oleh kehidupan dunia.
Mereka selalu kembali pada Allah dan ridha dengan semua keputusan-Nya.
6. Nafsul Mardhiyah, ...
Tingkat ini lebih tinggi daripada Nafsul Radhiyah. Ia adalah orang yang
sangat dekat dan dicintai Allah. Merekalah yang dimaksud oleh salah
satu hadist Qudsi:
“SENANTIASA HAMBAKU MENDEKATKAN
DIRI KEPADAKU DENGAN MENGERJAKAN IBADAH IBADAH SUNAH HINGGA AKU CINTA
PADANYA. MAKA APBILA AKU TELKAH MENCINTAINYA, JADILAH AKU PENDENGARANNYA
YANG DENGANNYA IA MENDENGAR, PENGLIHATANNYA YANG DENGANNYA IA
MELIHAT,PERKATAANNYA YANG DENGAN YA IA BERKATA KATA, JADILAH AKU
TANGANNYA YANG DENGANNYA IA BERBUAT, JADILAH AKU KAKINYA YANG DENGANNYA
IA MELANGKAH, DAN AKALNYA YANG DENGANNYA IA BERFIKIR”
Semua langkah dan perbuatannya dilakukan atas bimbingan dan petunjuk
Allah, seperti apa yang telah dilakukan Nabi Khidir dan tidak dipahami
oleh Nabi Musa .
Dia tidak bertindak dengan kemauan sendiri, melainkan dengan bimbingan dan kehendak Allah
7. Nafsul Kamilah, ...
ini adalah tingkatan para Nabi dan Rasul, manusia suci dan sempurna,
yang selalu berada dalam pengawasan dan bimbinganNya. Terpelihara dari
perbuatan yang tercela.
Untuk meraih tingkatan nafsu
dari level rendah sampai yang tinggi seperti tersebut diatas diperlukan
perjuangan yang gigih dan ulet. Tidak bisa didapat dengan santai tanpa
usaha yang maksimal. Untuk naik dari satu tingkat ketingkat yang lebih
tinggi dibutuhkan waktu yang cukup lama sampai bertahun tahun.
Insya Allah dengan hati yang bersih dan jernih kita bisa meraih
kemenangan dunia dan akhirat. Menjalani hidup berbahagia didunia dan
akhirat , tidak ditimpa kesedihan dan duka yang berlarut larut. Kelak
ditempatkan Allah di taman syurga yang abadi dan hidup kekal selamanya
disana...
Langganan:
Komentar (Atom)