beranda

Kamis, 30 Mei 2013

Agar Ilmu Bermanfaat bag. 1 (Oleh : Buya Yahya)

Agar Ilmu Bermanfaat bag. 1
Oleh : Buya Yahya
Pengasuh LPD Al-Bahjah
www.buyayahya.orgwww.buyayahya.tvwww.radioquonline.com

Biasanya ilmu didapat di sebuah majlis ilmu. Majlis ilmu adalah sebuah majlis yang di gunakan untuk mencari ilmu agar bisa beramal dengan benar dan puncaknya adalah mendapakan ridho Allah SWT. Rasulullah SAW telah menyebut banyak hadits berkenaan dengan kemuliaan majlis ilmu. Pernah beliau menyebut majlis ilmu sebagi taman surga, jalan menuju surga, tempat malaikat melebarkan sayapnya tanda kerelaan kepada yang hadir di majlis tersebut, tempat Allah menurunkan rahmat dan pengampunaNya dan masih banyak sanjungan Rasulullah SAW akan kemulyaan majlis tersebut. Itulah pendidikan dari Rasulullah SAW kepada kita agar kita memuliakan majlis ilmu.
Hanya orang yang bisa memuliakan majlis ilmu itulah orang yang mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan akan merasakan keindahan sebuah majlis ilmu. Dan dengan ilmu yang bermanfaat seseorang akan semakin baik kepada sesama dan kepada Allah SWT. Kehadiranya di majlis ilmu akan dirasakan sebagai kehadiran yang ia rindukan dan ia nikmati.
Makna memulyakan majlis adalah menyadari dengan hati bahwa semua yang ada dimajlis adalah yang akan menghantarkan kita kepada kemulyaan dihadapan Allah SWT. Artinya menginsyafi tentang siapapun yang ada di tempat itu adalah tim sukses kita menuju ridho Allah SWT. Maka harus diperhatikan unsur-unsur majlis ilmu ini agar benar-benar kita bisa memuliakan majlis ilmu dan akhirnya mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
Di dalam majlis ilmu harus ada guru, murid dan ilmu yang disajikan. Memuliakan majlis ilmu adalah memuliakan semua unsur tersebut diatas. Artinya harus kita perhatikan tata krama berikut ini:
1. Tatakrama guru terhadap murid
2. Tatakrama murid terhadap guru
3. Tatakrama guru terhadap sesama guru
4. Tatakrama murid dengan sesama murid
5. Tatakrama guru dan murid terhadap ilmu

1. Tatakrama guru terhadap murid

Seorang guru yang datang ke majlis ilmu harus mempunyai tata krama kepada murid-muridnya. Tata krama ini tidak lain adalah kelanjutan dari ketulusan seorang guru dalam mengajar. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seorang guru berkenaan dengan tata kramanya terhadap muridnya :

a. Melihat murid sebagai ladang akhiratnya

Melihat murid sebagai ladang pahala akan melahirkan sebuah kesungguhan dalam mendidik dan tidak akan kenal putus asa. Tidak akan membeda-bedakan mana yang kaya dan mana yang miskin, mana yang berpangkat dan mana yang tidak berpangkat.
Kegagalan seorang guru dalam menyampaikan ilmu yang bermanfaat adalah di saat seorang guru melihat murid sebagai ladang mencari dunia. Dunia disini bisa dalam bentuk materi atau pangkat dan sanjungan.
Seorang guru ketika melihat murid sebagai ladang mencari dunia akan menjadikan tolak ukur dalam mengajar sang murid adalah keuntungan dunia. Selagi menguntungkan di dunia akan diperhatikan dan jika tidak menguntungkan tidak diperhatikan. Guru semacam ini kelihatannya mengajar ilmu dan mengajak kepada kebaikan akan tetapi sebenarnya ia menyeru orang agar membawa dunianya kepadanya. Dari sinilah muncul kedengkian seorang guru dengan guru yang lainnya, hilangnya kerjasama yang baik antara guru dengan guru dan lebih dari itu seorang guru akan mudah berputus asa di dalam mengajarkan ilmunya.

b. Melihat murid dengan mata kasih sayang

Seorang guru yang tulus akan selalu melihat murid dengan mata kasih sayang. Mata yang penuh kerinduan agar sang murid menjadi baik dan mendapatkan ridho Allah SWT. Seorang guru yang melihat muridnya dengan penuh kasih sayang akan selalu terlihat santun dalam mengajar, indah dalam berinteraksi dan penuh kebijakan di saat menyampaikan kebenaran dan melarang kebathilan.
Guru yang penuh kasih sayang akan selalu koreksi diri dalam menyampaikan kebenaran dan di saat sang murid belum bisa menerima kebenaran tidak akan terburu-buru menyalahkan muridnya. Akan tetapi ia akan selalu melihat dirinya kenapa orang lain belum bisa menerima kebenaran yang disampaikan. Apakah dirinya kurang lembut dalam bertutur kata, atau tidak memberi contoh yang baik dalam perilaku atau kurang berserah dan memohon kepada Allah SWT, dan lain sebagainya yang intinya adalah mengoreksi kekurangannya yang sangat mungkin menjadi sebab ditolaknya sebuah kebenaran oleh sang murid.
Hal yang amat membahayakan seorang guru adalah di saat melihat murid dengan mata picik dan merendahkan, itulah hakikat kesombongan. Guru yang sombong tidak akan bisa menyampaikan ilmu yang bermanfaat.

c. Memberi teladan yang baik kepada murid

Dikatakan lisanulhal afsoh min lisanilmaqol, bahwa suri tauladan dalam bertingkah laku itu lebih mengena di hati seseorang dari pada omongan yang diucapkan lidah. Seorang guru yang berusaha menularkan ilmunya kepada murid harus bisa memberi contoh yang baik kepada muridnya. Hal ini disebut Rasulullah SAW dengan sabdanya ibda’ binafsik, artinya memulai mengamalkan ilmu untuk dirinya sendiri. Inilah kunci sang guru untuk membuka hati muridnya agar mudah menerima ilmunya.

2. Tata krama murid terhadap guru

Agar ilmu bermanfaat seorang murid harus bertata krama kepada gurunya.
Tata krama disini adalah:

a. Datang kepada guru dengan tujuan baik
Seorang murid yang datang kepada seorang guru harus punya tujuan baik. Tujuannya adalah untuk mendapatkan bimbingan dan ilmu dari sang guru agar semakin dekat kepada Allah SWT. Tidak beruntung seorang yang datang ke majlis ilmu hanya ingin mencari kesalahan sang guru atau mencari keuntungan dunia. Murid dengan tujuan yang salah itulah yang akan di jauhkan dari ilmu yang bermanfaat dan barokah.

b. Melihat guru sebagai pembimbing menuju keselamatannya di akhirat
Inilah yang menjadikan seorang murid amat menghargai seorang guru. Penghargaan inilah yang menghantarkannya untuk senantiasa serius dan bersungguh-sunguh dalam menimba ilmu dari sang guru.

c. Patuh kepada nasehat guru.
Sungguh jauh dari keberhasilan jika seorang murid tidak membiasakan patuh kepada sang guru. Patuh disini tidak terbatas pada urusan ilmu saja akan tetapi segala isyarat dan anjuran yang disampailkan sang guru seorang murid sebisa mungkin mematuhinya asalkan tidak dalam hal yang di larang Allah SWT.

d. Mengabdi kepada guru
Pengabdian disini maknanya adalah adanya kesiapaan hati untuk mengutamakan sang guru dari kepentingan dirinya sendiri, memperhatikan kebutuhan sang guru dan berusaha untuk mencari kerelaan hati dari sang guru. Wallahu A'lam Bishshowab
Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar